ISLAM
telah memproklamirkan bahwa manusia diciptakan dengan kedudukan paling mulia
diantara makhluk-makhluk lainnya. Kemuliannya itu bukan diperoleh oleh sebab
bentuk badannya yang kasar, karena hal itu dimiliki juga oleh makhluk Allah
lainnya seperti halnya hewan, tetapi kemuliannya itu diperoleh dari beban
amanah yang dipikulkan kepada manusia.
Sebagai makhluk yang mendapatkan beban amanah dari Allah,
maka ini berarti semenjak terlahir ke bumi manusia harus sudah dalam rangka
bertugas menunaikan amananhnya. Satu-satunya tugas manusia di bumi ini yaitu
menghamba atau beribadah, sesuai dengan firman Allah dalam surat Az-Zariyat
ayat 56. Kesadaran akan tugasnya ini maka ia tidak akan mensia-siakan
gerak-geriknya dan hilir mudiknya, karena harus dipastikan sedang dalam rangka
menunaikan tugasnya.
Untuk mendapatkan legitimasi yang kuat dan memahami tugasnya
dengan tepat, Allah memberikan mandat berupa fungsi dan peran kepada manusia.
Dalam surat Al-Baqarah ayat 30 sangatlah jelas bahwa Allah sudah menunjuk
manusia untuk berfungsi sebagai khalifah-Nya.
Yang dimaksud dengan khilafah dalam
ayat tersebut yaitu berfungsi sebagai wakilnya Allah. Kemudian yang jadi
pertanyaannya, dalam hal apa saja kita mewakili Allah? Maka untuk menjawab
pertanyaan itu Allah mengirim Rosul-rosulnya untuk memberi contoh dalam
mengejawantahkan keinginan Allah tersebut.
Mengacu kepada Al-Qur’an dalam surat Al-Fath ayat 28, telah
jelas bahwa yang menjadi alasan diutusnya Rosul yaitu untuk membawa petunjuk
(Al-Qur’an) dan Dien yang haq (Islam) yang tiada lain hanya untuk
dimenangkan atau ditegakan atas semua agama yang lain, atas sistem yang lain,
dan diatas aturan hidup yang selain dari Allah. Dengan ini sudah sangat
spesifik apa yang menjadi peran seorang khilafah
yaitu berupaya dan bersungguh-sungguh untuk memenangkan Islam supaya tegak
dalam semua lini kehidupan.
Manusia yang menyadari dan menyanggupi akan tugas, fungsi,
dan peranya di bumi, maka ia harus bertindak sesuai dengan kehendak Allah dalam
semua aspek kehidupannya, baik yang mengenai dirinya sendiri maupun yang
mengenai makhluk lain, baik yang mengenai moral, sosial, ekonomi, politik,
kemasyarakatan dan kenegaraan atau pun bagian-bagian manusia lainnya dari
aktivitas manusia. Ia tidak dikehendaki untuk menjadikan dirinya sebagai floating scum atau onggokan sampah yang
terkantung-kantung ditengah lautan. Tetapi harus berperan aktif menjalankan ke-khilafahannya itu. Sehingga membuka
pintu gerbang bagi dirinya kearah spiritualitas yang dinamis, kearah
menjelmanya iman dalam bentuk amal soleh, yang menghantarkan manusia kejalan
peradaban yang sehat dan terus menerus berlanjut.
Supaya tertunaikannya amanah ini dengan sebaik-baiknya,
Allah membekali manusia dengan berbagai potensi yang sangat lengkap, baik
potensi eksternal yang diluar dirinya atau potensi internal yang ada dalam
dirinya. Diluar dirinya telah ditundukannya alam semesta yang serba lengkap.
Didalam dirinya ia dibekali akal dan kemampuan-kemampuan untuk memanfaatkan
alam sekitar. Dengan kedua potensi tersebut sehingga menghasilkan suatu
kombinasi antara akal dan konstruksi jasmaniyahnya yang serasi dan rapih. Maka
dengan demikian manusia diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam aktivitas
kreatif dari Sang Pencipta sehingga layak dikategorikan sebagai makhluk yang
mulia.
Oleh: Mulyana/Tabyin/Bina Da'wah
