“Da’i harus melakukan jemput bola dalam dakwah dan tidak hanya "simatupang" atau siang-malam tunggu panggilan”, demikian pesan Ketua Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Provinsi Jawa Barat, DR. H. Hadiyanto Abdul Rahiem dalam sambutannya pada acara Wisuda ke 7 Akademi Da’wah Indonesia Dewan Da’wah Jawa Barat (ADI Jawa Barat), Ahad 30 Agustus 2020 di Kampus ADI Jawa Barat, Komplek Pakusarakan Lama, Ngamprah Kabupaten Bandung Barat.
Sebanyak 16 mahasiswa-mahasiswa yang berasal tidak hanya dari
daerah Jawa Barat namun juga berasal dari provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB),
Kalimantan Timur, Sumatera Selatan dan Bengkulu dinyatakan lulus setelah berhasil
menempuh pendidikan dan digembleng selama satu tahun di bawah lembaga
pendidikan yang dikelola Dewa Da’wah Islamiyah Indonesia Jawa Barat.
Dr. Hadiyanto mengatakan, walau jumlah yang tidak banyak,
tetapi para da’I dan da’iyah muda
lulusan ADI Dewan Da’wah Jawa Barat harus menjadi seperti ragi, walaupun jumlah
sedikit tetapi bisa mewarnai masyarakat di manapun dia berada.
Ustadz Hadiyanto melanjutkan bahwa ada tiga pilar dakwah Dewan
Da’wah yang menjadi akar rumput Dewan Da’wah, yakitu Masjid, Kampus dan
Pesantren.
Sebelumnya, Direktur ADI Jawa Barat, DR. Syarif Hidayat dalam
pengantarnya menyampaikan ucapan terima kasih kepada orangtua yang telah
mempercayakan pendidikannya ke ADI. Kendala Covid sangat terasa dalam pembinaan. Semoga jadi bekal dalam
menempuh perjalanan hidup ke depan. Orang beriman seperti pohon kurma yang
tidak pernah gugur daun nya.
“Saya sampaikan selamat jalan kepada semua wisudawan. Ingat
kalau sudah masuk STID M. Natsir jangan melupakan jati diri ADI Jabar.
Istiqomah lah dalam tolabul Ilmi. Mohon doanya kami sedang berupaya untuk
membangun kampus di sebelah pusdiklat”, pesan Dr. Syarif.
Naufal Herdianto wisudawan ADI dalam pesan kesannya
mengungkapkan bawah satu tahun tak terasa sudah dilalui. Pil pahit dan manis
sudah kita rasakan.
“Kami dipertemukan dalam adat dan tradisi berbeda guna
meningkatkan kemampuan berdakwah. Kami sampaikan terima kasih dan penghargaan
kepada seluruh dosen. Kita mengerti arti mujahadah dan tahfidz Qur'an. Syukron
kepada orang tua, pimpinan dan staf ADI”, ucanya.
Orasi Ilmiah disampaikan oleh Ketua STID Mohammad Natsir, Dr. Dwi Budiman Assiroji, M.Pd.I. Dalam
orasinya Doktor Dwi menyatakan bahwa gerakan dakwah tidak bisa berjalan tanpa adanya
kaderisasi. Ia pun menyambut baik rencana ADI Jabar untuk menjadi Sekolah
Tinggi.
“Wisuda bukan akhir dari perjuangan tapi awal. Sekarang antum
sudah resmi menjadi da'i. Kewajiban berdakwah ketika sudah menyandang gelar dai
tidak boleh beristirahat. Jangan seperti nabi Yunus. Waman ahsanu qoulan...itu
tabsyir bagi kita yg menjadikan dakwah sebagai jalan hidupnya”, pesannya kepada
wisudawan-wisudawati ADI.
Tidak ada program dakwah kecuali di dalamnya ada orang yg
berjibaku. Stempel khoero ummah harus ditebus dengan amar makruf nahyi Munkar.
Ini kewajiban semua orang beriman. Semua kita wajib menegakkan dakwah dalam
diri, keluarga dan masyarakat. Tapi harus disiapkan sekelompok orang (ummah) yang
khusus profesi nya berdakwah. Inilah yg melandasi pembentukan STID Mohammad
Natsir dan ADI diseluruh Indonesia.
Terakhir, dia berharap kepada Dewan Da’wah Jawa Barat Jabar agar terus memantau dan membina para alumni di mana
pun mereka berkiprah. Para alumni ADI Jawa Barat harus menjadi bagian dari
gerakan dakwah di Jabar. Semoga mereka Istiqamah dalam gerakan dakwah.***Amre/MAF/BD



Post a Comment